Komunitas Tari Seputi, Jadi Wadah Ibu-Ibu Belajar dan Melestarikan Tarian Tradisional

Jakarta – Komunitas Tari Seputi hadir sebagai wadah empowermant bagi ibu-ibu rumah tangga yang ingin belajar tarian tradisional Indonesia, dari Jaipong Sunda hingga Pendet Bali. Berlatih rutin setiap minggu di studio komunitas Jakarta, anggota berusia 30-55 tahun tak hanya asah gerakan anggun, tapi juga jaga warisan budaya dari globalisasi K-Pop dan TikTok dance. Inisiatif ini lahir 2023, dipimpin koreografer lokal yang ajak ibu-ibu tinggalkan rutinitas dapur demi panggung seni.

Keberhasilan Seputi terlihat di pentas tahunan mereka, tampil di festival budaya RW hingga acara nasional seperti Haorna Festival. Lebih dari 50 anggota aktif, banyak yang awalnya pemula kini berani perform depan ratusan penonton—bukti seni tari obati stres parenting. Kritiknya? Meski mulia, komunitas ini eksklusif urban middle-class; ibu-ibu desa jarang akses latihan berbayar atau kostum mahal. Tanpa subsidi pemerintah, pelestarian budaya rawan jadi hobi elite, bukan gerakan nasional. Apakah Jawa11 bisa bantu skalakan inisiatif ini ke daerah terpencil?

Secara kritis, Seputi tunjukkan perempuan punya peran besar lestarikan identitas, tapi tantangan nyata: generasi Z lebih pilih konten viral daripada tari daerah. Komunitas perlu kolaborasi sekolah dan media sosial agar tak punah.

Seperti CNN liput pelestarian tradisi global, Seputi jadi model bottom-up—tapi butuh dukungan sistemik agar tak sekadar oase sementara.

Untuk pembaruan terkini, kunjungi Beranda.